Kopi Botol, Mungkinkah Sesukses Teh Botol?
Posted by: admin
August 28, 2014

Penggemar
kopi kini semakin dimanjakan dengan hadirnya kopi kemasan botol plastik
atau polyethylene terephthalate (PET). Apakah inovasi ini dapat
diterima pasar?
Bertumbuhnya kelas menengah memberikan kesempatan bagi para pelaku
bisnis. Pasalnya, seseorang yang berada dalam kelas ini cenderung
mengalami peningkatan kebutuhan konsumsi dan responsif terhadap
perkembangan baru. Uniknya mereka tidak hanya ingin membeli produk atau
jasa atas dasar kebutuhan, tetapi juga harus selaras dengan gaya hidup.
Peluang ini pula yang dibaca para produsen kopi, khususnya produk
ready to drink (RTD), dengan melakukan inovasi guna menyediakan produk
premium berharga terjangkau. Menariknya, inovasi tersebut tidak hanya
sebatas menciptakan varian produk baru, tetapi bereksperimen dari sisi
kemasan agar menarik konsumen. Salah satunya mengenalkan kopi dalam
kemasan botol PET.
Tren kopi kemasan botol PET pertama kali dikenalkan oleh Mayora Group
dengan merilis merek “Kopiko 78°C”, jenis coffee latte yang diekstrasi
dengan suhu 78 derajat celsius. Konon suhu tersebut sangat ideal untuk
mendapatkan rasa kopi yang nikmat.
Kopi tersebut kemudian dikemas dalam botol PET ukuran 250 ml. Seakan
tak mau kalah dengan Mayora, Kapal Api Group pun meluncurkan produk
serupa, yakni “Good Day” dalam kemasan botol PET ukuran 250 ml. Ada dua
varian yang dilempar ke pasar, yakni Tiramisu Bliss Coffee dan Funtastic
Mocacinno.
Jika mencermati kemasan, harga, dan varian rasanya, kedua produk
minuman RTD di atas sama-sama menyasar remaja dan dewasa di kelas
menengah ke atas yang menuntut modernitas dan kepraktisan. “Kopiko 78°C
menyasar segmen gaya hidup kalangan muda, begitu pula dengan Good Day.
Bentuknya simpel dan praktis, sangat cocok untuk dikonsumsi di mana pun
dan kapan pun,” kata Asnan Furinto, Pengamat Pemasaran.
Ia menambahkan, secara umum kemunculan kopi kemasan botol PET
merupakan lahan kompetisi baru. Bila sebelumnya persaingan berkutat di
kopi bubuk, lalu masuk ke era sachet, dan kemasan gelas plastik, kini
persaingan melebar ke kemasan botol plastik (PET). Konsep kopi kemasan
botol PET sepertinya mengikuti produk teh yang sudah lebih dulu dan
sukses bermain di kemasan botol PET.
“Kalau dilihat, bisnis kopi saat ini sedang mengikuti life cycle-nya
produk teh RTD. Bila dulu teh botol dengan memakai botol kaca, kini
sudah banyak yang memakai PET maupun kemasan karton. Meski tidak
memiliki datanya, konsumen di Indonesia lebih membeli karena produknya,
bukan kemasannya. Jadi, peranan merek masih tetap nomor satu, kalau
kemasan menjadi nomor dua atau tiga lah,” ujar Asnan.
Mengenai potensi pasar kopi RTD, khususnya kopi botol PET, masih
terbuka lebar. Pasalnya, konsumsi kopi per kapita Indonesia masih
rendah, di bawah 1 kg per kapita per tahun, atau diperkirakan baru
sekitar 800 gr per orang per tahun. Padahal di negara lain seperti
Amerika Serikat, angkanya sekitar 4 kg per kapita per tahun, malahan di
negara eropa bisa mencapai 9 kg per kapita per tahun.
Masuk dalam kelompok makanan dan minuman (mamin), pertumbuhan produk
kopi cukup menggembirakan. Faktanya sejak tahun 2002, industri mamin
selalu tumbuh dua digit—jarang terjadi di industri lain. Bahkan, ketika
situasi ekonomi sedang terguncang akibat krisis global pada tahun 2008,
bisnis ini masih bertumbuh signifikan hingga 14,9%. Tak hanya di pasar
mancanegara, peluang pasar kopi dalam negeri pun masih cukup tinggi.
Faktor lain yang diprediksi turut mendongkrak permintaan kopi RTD
domestik adalah menjamurnya mini market di seluruh pelosok Indonesia.
Alhasil, produsen kopi semakin gencar membuat inovasi-inovasi dari rasa
kopi dan kemasan. “Sayangnya, kalau dilihat pemainnya masih pemain yang
sama, tidak ada pemain baru. Sebut saja, Torabika, Kopiko, Kapal Api,
dan Indocafe, sehingga nampak indikasi persaingannya tidak begitu
ketat,” ungkap Asnan yang juga Direktur Program SGPP Indonesia.
Dalam mengonsumsi kopi, masyarakat kita sebenarnya belum terlalu
branded mind, dalam artian kedua merek kopi botol PET tersebut belum
memiliki awareness kuat. Terbukti ketika orang masuk ke supermarket,
pasti akan memilih kopi RTD yang terdekat dan dapat dijangkau atau yang
kemasannya menarik di mata.
Konsumen cenderung tidak loyal terhadap suatu merek kopi dan sering
berganti-ganti dalam memilih minuman RTD. Belum lagi edukasi produsen
kopi terhadap pasar sangat terbatas, berbeda dengan produsen teh botol
PET.
Kondisi ini tentu membuat produsen sangat berhati-hati dalam
investasi, apalagi jenis produk ini masih baru di Indonesia. Jadi jangan
heran bila Kapal Api Group dan Mayora Group selaku produsen dari kedua
kopi botol PET tersebut memilih melakukan toll manufacturing yang sama
di PT Hokkan Indonesia, ketimbang memproduksi sendiri, meski keduanya
merupakan seteru abadi di kancah bisnis perkopian di Tanah Air.
Tujuannya tak lain mencegah kerugian.
Lantas, seberapa besar kans kedua merek tersebut diterima pasar?
Sekali lagi Asnan menekankan, keberhasilan diterima pasar bukan hanya
karena mampu berinovasi dalam kemasan, seperti kopi botol PET. Tapi,
perlu juga didukung oleh kekuatan merek itu sendiri. Jadi, bila ingin
sukses menguasai pasar kopi nasional, produsen kopi harus bisa
menciptakan inovasi-inovasi yang cukup signifikan.
“Pastinya mereka harus belajar dari kesuksesan Luwak White Koffie.
Inovasinya menghadirkan kopi putih terlihat sederhana, tapi mampu
menjadi tren di pasar. Fenomena kopi putih yang awalnya hanya sebatas
pasar blue ocean, sekarang menjelma menjadi red ocean. Seyogyanya
produsen kopi harus berani berinovasi lebih lagi. Jangan pernah berhenti
ciptakan sesuatu yang baru,” pungkas dia.
(Moh. Agus Mahribi, Isaiah Christian)
Sumber : http://www.marketing.co.id/kopi-botol-mungkinkah-sesukses-teh-botol/